Jakarta – PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) menggelar Public Expose secara virtual, Jumat (5/6/2026). Di tengah tekanan pelemahan rupiah dan ketidakpastian geopolitik, emiten menara telekomunikasi ini justru menunjukkan posisi keuangan yang unik: bebas utang dolar AS dan mulai merambah bisnis Artificial Intelligence (AI).
Pendapatan Flat, Margin Tetap Kuat
Manajemen BALI memproyeksikan kinerja 2026 cenderung stabil atau flat dengan target pendapatan sekitar Rp1,225 triliun. Namun, efisiensi tetap dijaga dengan target EBITDA margin sebesar 69,49%, relatif sama dengan realisasi tahun 2025.
Menariknya, ketika banyak emiten lain tertekan oleh rupiah yang menyentuh Rp 20.000/USD, BALI mengklaim tidak memiliki eksposur signifikan. Seluruh pendapatan dan liabilitas perseroan dalam mata uang Rupiah.
“Perseroan tidak memiliki utang dalam mata uang asing, sehingga tidak diperlukan strategi hedging,” tegas manajemen dalam paparannya.
Bocorannya Bukan ke VSAT, Tapi ke AI
Langkah paling mengejutkan adalah ekspusi agresif BALI ke bisnis kecerdasan buatan (AI). Pada November 2025, BALI mendirikan PT Paramitra Teknologi Pintar. Hanya sebulan kemudian, perseroan mengakuisisi 40% saham JDS (Januari 2026).
Manajemen menjelaskan, akuisisi tersebut bukan untuk melengkapi portofolio VSAT RTGS yang sudah berjalan di 6.282 titik, melainkan langkah strategis masuk ke ekosistem AI.
“Tahap awal, AI akan difokuskan untuk efisiensi operasional internal. Jika optimal, akan kami kembangkan sebagai layanan eksternal,” ujar manajemen.
Prospek VSAT Masih Terbuka Lebar
Meski fokus ke AI, bisnis inti VSAT tetap prospektif. Pemerintah menargetkan 150.000 titik akses internet, namun baru terealisasi sekitar 35.000 titik. BALI melihat peluang besar di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Kejutan Dividen Rp30 per Saham
Para pemegang saham tidak perlu kecewa. RUPS menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp118,04 miliar atau Rp30 per saham yang bersumber dari laba tahun buku 2025. Sisanya akan digunakan sebagai laba ditahan untuk pengembangan usaha, termasuk ekspansi AI.
Jadwal pembagian dividen akan diumumkan lebih lanjut melalui keterbukaan informasi.
Risiko Listrik, tapi Dinilai Masih Terkelola
Manajemen mengakui ada beban listrik O&M sekitar Rp65 miliar di 2025 (sekitar 5% dari pendapatan). Meskipun harga energi global berpotensi naik, BALI menilai dampaknya tidak signifikan terhadap target 2026.
Kesimpulan Redaksi
BALI menawarkan cerita yang jarang ditemukan: emiten infrastruktur dengan lindung nilai alami (natural hedging) terhadap rupiah, ekspansi ke teknologi masa depan (AI), tetap membagikan dividen menarik, dan prospek VSAT dari program pemerintah. Yang perlu dicermati: apakah strategi AI akan membuahkan hasil dalam 1-2 tahun ke depan, dan bagaimana manajemen menjaga margin di tengah pendapatan yang stagnan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar