Jakarta – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), emiten menara telekomunikasi terbesar di Indonesia, tengah menyiapkan lompatan besar. Perusahaan pelat merah ini berencana untuk tidak hanya menyewakan menara, tetapi juga menjadi penyedia solusi energi bagi para operator seluler.
Mitratel, Dari Menara ke "Power as a Service"
Dalam dokumen keterbukaan informasi yang dirilis, Mitratel mengumumkan rencana perubahan kegiatan usaha dengan menambahkan tiga Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru di bidang ketenagalistrikan. Langkah ini merupakan wujud nyata dari strategi diversifikasi perusahaan ke dalam bisnis Power as a Service (PaaS).
Mengapa Mitratel Masuk ke Bisnis Listrik?
Alasannya cukup kuat. Selama ini, para operator seluler (MNO) yang menyewa menara Mitratel seringkali menghadapi masalah pasokan listrik yang tidak stabil, terutama di wilayah terpencil atau off-grid. Dengan layanan PaaS, Mitratel tidak hanya menyediakan menara, tetapi juga mengelola seluruh kebutuhan energi di site tersebut—mulai dari instalasi panel surya, baterai, hingga sistem distribusi listrik.
"Ini adalah langkah strategis untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks," demikian bunyi salah satu paparan dalam dokumen tersebut. Mitratel menilai bahwa kebutuhan akan pasokan energi yang andal dan efisien terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan infrastruktur digital.
Studi Kelayakan: Layak dan Menguntungkan
Rencana ini tidak dibuat tanpa perhitungan matang. Mitratel telah menunjuk KJPP Nirboyo Adiputro, Dewi Apriyanti & Rekan untuk melakukan studi kelayakan. Hasilnya? Layak.
Berdasarkan studi tersebut, bisnis PaaS diproyeksikan memberikan kontribusi pendapatan yang stabil sekitar Rp47,2 miliar per tahun sepanjang 2026 hingga 2030. Secara keseluruhan, proyeksi keuangan menunjukkan bahwa penambahan bisnis ini akan memberikan tambahan aset sekitar Rp269 miliar pada 2026.
Analisis kelayakan finansial menunjukkan hasil yang positif. Proyek ini diperkirakan memiliki:
· Net Present Value (NPV): Rp28,9 miliar (positif, artinya menguntungkan).
· Internal Rate of Return (IRR): 11,98%, yang lebih tinggi dari tingkat diskonto yang digunakan (WACC 9,10%).
· Payback Period: 7 tahun 8 bulan.
· Return on Investment (ROI): rata-rata 4,88%.
Siap Hadapi Risiko
Mitratel juga telah mengidentifikasi risiko-risiko yang mungkin timbul, seperti risiko operasional, teknologi, dan komersial. Namun, perusahaan menilai bahwa risiko-risiko tersebut "pada prinsipnya masih dapat dikelola dengan sistem pengendalian yang memadai." Selain itu, Mitratel menyatakan bahwa mereka tidak akan serta-merta merekrut banyak karyawan baru. Untuk tahap awal, mereka akan memanfaatkan struktur internal yang ada dan menggunakan skema operator on demand untuk pelaksanaan di lapangan.
Izin Sudah di Tangan
Salah satu hambatan terbesar dalam bisnis kelistrikan adalah perizinan. Namun, Mitratel mengaku telah memiliki izin-izin kunci yang diperlukan, seperti Izin Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (IUJPTL) dan Sertifikat Badan Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (SBUJPTL). Ini menjadi modal penting bagi Mitratel untuk memulai langkah barunya.
Langkah Selanjutnya: RUPS
Rencana perubahan kegiatan usaha ini masih membutuhkan persetujuan dari para pemegang saham. Mitratel akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa, 30 Juni 2026 untuk meminta persetujuan atas penambahan kegiatan usaha ini.
Dengan langkah ini, Mitratel tidak hanya memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi terintegrasi, tetapi juga membuka peluang bisnis baru di era transisi energi. Sebuah langkah yang patut dinantikan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar