JAKARTA – PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) membukukan kinerja keuangan yang solid sepanang tahun 2025, di tengah ekspansi agresif di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ekosistem kreatif. Laba bersih perseroan tercatat tumbuh 16,11% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp249,6 miliar.
Pertumbuhan laba ditopang oleh pendapatan operasional yang naik 17,89% yoy menjadi Rp1,97 triliun. Dari sisi penyaluran kredit, Bank Amar mencatatkan pertumbuhan kredit bruto sebesar 30,62% yoy menjadi Rp4,16 triliun per Maret 2026.
Yang menarik, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) Bank Amar justru turun signifikan dari 1,48% pada Maret 2025 menjadi hanya 0,86% pada Maret 2026. Angka ini jauh di bawah rata-rata industri perbankan nasional yang berada di kisaran 2-3%.
Presiden Direktur Bank Amar dalam paparan publiknya, Selasa (23/6/2026), menyebutkan bahwa penurunan NPL ini berkat sistem credit scoring dan manajemen pinjaman internal yang telah dikembangkan selama 10 tahun.
"Kami mampu menilai kelayakan kredit peminjam secara akurat. Teknologi harus berdampak dan memperbaiki kehidupan, itulah filosofi kami," ujarnya.
---
Fokus UMKM dan Ekosistem Kreatif
Bank Amar semakin serius menggarap segmen ritel dan UMKM. Hingga Maret 2026, bank digital ini telah melayani lebih dari 500.000 pelaku UMKM dengan total penyaluran pinjaman sejak 2014 menembus Rp19 triliun.
Aplikasi perbankan digital Amar juga telah diunduh lebih dari 28 juta kali, dengan rata-rata lebih dari 3 juta pengajuan pinjaman per tahun.
Selain UMKM, Bank Amar juga membidik industri perfilman tanah air yang sedang bangkit. Melalui kolaborasi dengan JAFF Market dan ekosistem kreatif lainnya, Amar Bank ingin berperan sebagai katalis pertumbuhan industri kreatif nasional.
"Film-film lokal kini menguasai 80,2% pangsa pasar penonton bioskop di Indonesia. Ini peluang besar untuk layanan keuangan terintegrasi," papar manajemen.
---
Strategi Embedded Banking Jadi Motor Pertumbuhan
Salah satu strategi utama Bank Amar adalah embedded banking and finance (EBF), yakni solusi plug-and-play yang memungkinkan mitra platform digital (B2B2C) mengintegrasikan layanan perbankan langsung ke ekosistem mereka.
Layanan ini mencakup akses tabungan, deposito, pinjaman digital Tunaiku, hingga metode pembayaran. Target ekspansi EBF mencakup sektor entertainment, e-commerce, logistik, dan ride-hailing.
"Dengan EBF, pengguna tetap dalam ekosistem dari awal hingga akhir, tanpa ada gesekan (friction)," jelas tim manajemen.
---
Rasio Keuangan Unggul
Meskipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) mengalami penurunan dari 24,93% menjadi 20,73%, rasio-rasio lain justru menunjukkan kesehatan bank yang prima:
· CAR (rasio kecukupan modal): 99,17% (sangat tinggi di atas ketentuan)
· ROE (return on equity): 8,34% (meningkat dari 7,46% per Desember 2025)
· LDR (rasio pinjaman terhadap simpanan): 142,56% (menunjukkan penyaluran kredit yang agresif)
Dengan modal inti di atas Rp3 triliun, Bank Amar saat ini berstatus BUKU II dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham AMAR. Pemegang saham pengendali adalah Tolaram (75,25%), konglomerasi multinasional berbasis di Singapura.
---
Kesimpulan: Bank Amar menunjukkan bahwa pertumbuhan agresif tidak harus diikuti oleh kenaikan risiko kredit. Fokus pada UMKM, ekosistem kreatif, dan embedded banking menjadi kunci optimisme perseroan memasuki sisa tahun 2026.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar