Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


JAKARTA – PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), emiten batubara yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Selatan, mencatatkan penurunan signifikan pada kinerja keuangan tahun 2025. Laba bersih perseroan terkoreksi 36,2% menjadi 84 juta dolar AS dari sebelumnya 131,6 juta dolar AS pada tahun 2024.


Penurunan laba ini sejalan dengan kontraksi pendapatan. Sepanjang 2025, BSSR membukukan penjualan sebesar 703,8 juta dolar AS, turun 25,7% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 947,8 juta dolar AS. Manajemen perseroan dalam paparan publik, Senin (15/6/2026), mengakui bahwa tekanan harga batubara global menjadi faktor utama.


"Harga batubara acuan (HBA) dan ICI sepanjang 2025 hingga Mei 2026 menunjukkan tren yang menantang. Ini berdampak langsung pada top line kami," ujar perwakilan manajemen BSSR.


Dari sisi profitabilitas, laba bruto perseroan turun menjadi 208,6 juta dolar AS dari sebelumnya 309,2 juta dolar AS, sementara laba usaha terkoreksi menjadi 103 juta dolar AS dari 169,7 juta dolar AS.


---


Efisiensi dan Volume Produksi Jadi Penyangga


Meskipun laba turun, BSSR masih mencatatkan margin EBITDA yang relatif stabil di angka 23,31% pada 2025, dibandingkan 23% pada 2024. Hal ini menunjukkan bahwa perseroan cukup berhasil mengelola struktur biaya di tengah tekanan harga.


Volume produksi dan penjualan batubara justru menunjukkan tren positif. Pada kuartal I-2026, produksi BSSR dan entitas anak mencapai 3,78 juta ton, meningkat 30% dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, volume penjualan kuartal I-2026 tercatat 3,68 juta ton, naik 16% secara tahunan.


Manajemen menjelaskan bahwa peningkatan volume ini didukung oleh kelancaran alur logistik dari pit ke port, serta optimalisasi jalan hauling dan tongkang di kedua lokasi tambang, yaitu di Kutai Kartanegara (BSSR) dan wilayah Kalimantan Selatan (PT Antang Gunung Meratus).


---


Ekspor Dominasi Pasar, Tiongkok Masih Raja


Dari sisi pemasaran, BSSR tetap bertumpu pada pasar ekspor. Pada tahun 2025, Tiongkok menjadi negara tujuan utama dengan porsi 36,85% atau setara 5,31 juta ton. Disusul India yang mencatatkan lonjakan signifikan menjadi 30,41% atau 6,36 juta ton, naik tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya 7,62%.


Negara tujuan lainnya meliputi Korea Selatan, Filipina, Thailand, serta pasar domestik Indonesia yang menyumbang 14,63% dari total penjualan.


Kualitas batubara yang ditambang BSSR bervariasi mulai dari GAR 3400 (kalori rendah) hingga GAR 6400 (kalori tinggi), melalui entitas anaknya PT Antang Gunung Meratus.


---


Realisasi Belanja Modal: Lahan Habis, Non-Lahan Rendah


Pada tahun 2025, BSSR mengalokasikan anggaran belanja modal (capex) sebesar 44,7 juta dolar AS. Namun, realisasinya mencapai 36,9 juta dolar AS atau 133% dari anggaran. Hal ini terutama disebabkan oleh realisasi belanja lahan yang melonjak menjadi 33,7 juta dolar AS dari anggaran 30,3 juta dolar AS (realisasi 111%).


Sebaliknya, belanja modal untuk non-lahan hanya terealisasi 22% dari anggaran, yakni 3,2 juta dolar AS dari rencana 14,4 juta dolar AS. Manajemen tidak merinci secara spesifik penyebab rendahnya realisasi belanja non-lahan tersebut.


---


Rasio Keuangan Masih Sehat, Imbal Hasil Ekuitas Melambat


Meskipun laba menurun, struktur modal BSSR tetap terjaga. Rasio liabilitas terhadap ekuitas membaik menjadi 35,6% pada 2025 dari sebelumnya 45%. Rasio lancar juga meningkat menjadi 234,6% dari 175%, menunjukkan likuiditas yang solid.


Namun, imbal hasil ekuitas (return on equity) turun dari 50% pada 2024 menjadi 30,76% pada 2025, sejalan dengan penurunan laba bersih.


---


Segudang Penghargaan Sepanjang 2025


Di tengah tantangan harga, BSSR justru mengoleksi 35 penghargaan sepanjang 2025. Rinciannya:


· Kinerja Perusahaan: 14 penghargaan, termasuk IDN Fortune 100 dan Top Energy Company in Indonesia.

· CSR & ESG: 19 penghargaan, termasuk ISDA Award 2025 untuk komitmen terhadap SDG's pilar lingkungan.

· Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3): 2 penghargaan, di antaranya dari Kementerian Ketenagakerjaan untuk inovasi QCC di PT Antang Gunung Meratus.


Manajemen menegaskan bahwa efisiensi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan lingkungan tetap menjadi prioritas meskipun harga batubara sedang dalam tren penurunan.


---


Prospek 2026: Optimisme Hati-hati


Ke depan, BSSR menyatakan akan terus menggenjot volume produksi dan efisiensi logistik guna menjaga margin di tengah volatilitas harga komoditas. Dengan realisasi capex yang belum optimal di sektor non-lahan, perseroan masih memiliki ruang untuk meningkatkan investasi pada peralatan tambang dan infrastruktur pendukung.


Para investor dan analis akan mencermati apakah BSSR mampu mempertahankan margin EBITDA di atas 23% dan mengembalikan imbal hasil ekuitas ke level 50% dalam dua tahun ke depan.


---


Kesimpulan: Baramulti Suksessarana masih menjadi pemain besar di industri batubara nasional dengan volume produksi yang tumbuh dan struktur modal yang sehat. Namun, tekanan harga komoditas dan realisasi belanja modal yang timpang menjadi pekerjaan rumah utama perseroan di sisa tahun 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib