Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


SOLO – PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT), perusahaan kertas dan kemasan kertas terintegrasi asal Jawa Tengah, mencatatkan kerugian tahun berjalan sebesar Rp142,67 miliar pada 2024. Angka ini melonjak 468% dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang hanya Rp25,11 miliar.


Paparan publik yang digelar di Solo, 10 Juni 2026, mengungkap kondisi keuangan perusahaan yang terus memburuk. Penjualan bersih merosot 28% menjadi Rp176,49 miliar dari sebelumnya Rp245,27 miliar. Lebih parah lagi, rugi kotor melonjak 693% , meski manajemen tidak menyebutkan angka pastinya.


---


Ekuitas Tergerus 69%, Aset Ludes Rp152 M

Ekuitas perseroan anjlok drastis dari Rp202,44 miliar (2023) menjadi hanya Rp60,85 miliar di akhir 2024 – turun 69%. Total aset pun menyusut 24% atau berkurang Rp152,55 miliar, menjadi Rp481,5 miliar.


“Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh bertambahnya cadangan kerugian nilai piutang usaha dan pencadangan nilai aset pajak tangguhan,” demikian tertulis dalam dokumen paparan publik.


Utang Masih Menggunung

Meskipun total liabilitas sedikit turun 3% menjadi Rp420,65 miliar, angka tersebut masih sangat tinggi dibandingkan ekuitas yang hanya Rp60,85 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas memburuk secara signifikan.


Manajemen menyebut pembayaran utang bank yang jatuh tempo menjadi salah satu penyebab turunnya liabilitas, namun tidak diikuti perbaikan kinerja operasional.


---


Strategi Sentralisasi Marketing Belum Berbuah

Dalam paparannya, perseroan mengusung sejumlah strategi seperti sentralisasi marketing, one day delivery service ke seluruh Jawa, serta menjadikan pelanggan sebagai pemasok bahan baku. Sayangnya, strategi tersebut belum mampu menahan tekanan pasar yang menurun.


Struktur kepemilikan masih didominasi oleh PT Sumber Makmur Lumintu (77,22%) dan Shio Alim Susanto (0,78%), sementara publik hanya memegang 22% saham.


---


Ancaman bagi Pemegang Saham

Dengan kerugian komprehensif yang mencapai Rp141,58 miliar (naik 461%), dan ekuitas yang terus tergerus, perusahaan kertas ini menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan kelangsungan usaha ke depan. Analis menilai investor perlu mencermati risiko likuiditas dan kemampuan perusahaan membayar kewajiban.


Kesimpulan: PT Sriwahana Adityakarta Tbk masih beroperasi, namun laporan keuangan 2024 menunjukkan sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib