Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

 


Jakarta – PT Janu Putra Sejahtera Tbk (BEI: AYAM) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tekanan industri perunggasan yang masih berlanjut. Perseroan membidik peluang dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), memperluas penetrasi ke modern trade hingga pelanggan korporasi, sembari meningkatkan efisiensi operasional guna menopang kinerja ke depan.


Langkah tersebut diambil setelah penjualan Perseroan sepanjang 2025 terkoreksi 26,10% secara tahunan menjadi Rp267,06 miliar dari Rp361,34 miliar pada 2024. Penurunan dipicu melemahnya harga ayam hidup (live bird), perubahan kondisi pasar, serta penyesuaian volume penjualan di tengah dinamika industri perunggasan.


Tekanan belum mereda pada awal tahun ini. Hingga kuartal I 2026, penjualan AYAM tercatat Rp56,39 miliar atau turun 46,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan menyebut pelemahan daya beli masyarakat, volatilitas harga ayam hidup, serta kenaikan biaya produksi akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap bahan baku pakan impor masih menjadi tantangan utama.


Di tengah penurunan pendapatan, Perseroan tetap menjaga ekspansi bisnis. Per 31 Maret 2026, total aset meningkat 6,82% menjadi Rp520,44 miliar, sementara ekuitas naik 1,37% menjadi Rp214,10 miliar. Kenaikan tersebut mencerminkan penguatan struktur permodalan dan kapasitas operasional perusahaan, meskipun liabilitas juga meningkat seiring kebutuhan modal kerja untuk mendukung pengembangan usaha.


Direksi menilai prospek industri perunggasan masih menjanjikan. Pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya kesadaran konsumsi protein hewani, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis yang ditargetkan menjangkau sekitar 82,9 juta penerima manfaat diperkirakan akan menjadi katalis baru bagi permintaan ayam dan telur nasional.


Untuk menangkap peluang tersebut, AYAM akan memperkuat bisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir, meningkatkan efisiensi operasional, memperluas jaringan distribusi ke modern trade, Horeca, pelanggan korporasi dan institusi, serta mengembangkan produk unggas bernilai tambah. Perseroan juga memperluas kolaborasi melalui program Janu Meet & Connect (JMC) serta menjajaki kerja sama penyediaan kebutuhan pangan dalam mendukung Program MBG.


Meski optimistis terhadap prospek jangka panjang, Perseroan mengakui sejumlah risiko masih membayangi industri. Di antaranya fluktuasi harga bahan baku pakan impor, volatilitas harga ayam hidup dan telur, persaingan usaha yang semakin ketat, hingga ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi memengaruhi biaya logistik dan rantai pasok.


Dengan strategi diversifikasi pasar, penguatan bisnis terintegrasi, dan fokus pada efisiensi, AYAM berharap mampu memperkuat daya saing sekaligus menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan di tengah dinamika industri perunggasan nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib