Jakarta – PT Green Power Group Tbk (BEI: LABA) membukukan lonjakan laba bersih pada kuartal I 2026 meski penjualan mengalami penurunan. Emiten yang tengah bertransformasi menjadi perusahaan energi terbarukan ini juga menegaskan komitmennya memperluas bisnis baterai dan kendaraan listrik melalui pengembangan manufaktur serta kemitraan strategis.
Berdasarkan paparan publik Perseroan, laba bersih periode berjalan melonjak 207,86% menjadi Rp6,09 miliar pada kuartal I 2026, dibandingkan Rp1,98 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terjadi di tengah penurunan penjualan bersih dari Rp8,74 miliar menjadi Rp3,36 miliar atau turun 61,55% secara tahunan.
Selain penjualan, laba kotor Perseroan juga turun 63,91% menjadi Rp2,06 miliar. Namun, harga pokok penjualan ikut menurun 57,01% menjadi Rp1,30 miliar, sehingga Perseroan tetap mampu mencatatkan peningkatan laba bersih secara signifikan.
Di sisi operasional, LABA terus memperluas portofolio bisnis energi terbarukan. Perseroan telah membentuk empat anak usaha, yakni PT Green Power Battery (GPB), PT Sustainable Energy Development Trading (SEDT), PT Green Power Precision Indonesia (GPPI), dan PT Aceh Mineral Abadi (AMA) untuk mendukung pengembangan bisnis baru.
Melalui anak usahanya, SEDT, Perseroan melanjutkan bisnis penyewaan kendaraan listrik yang mencakup 138 unit motor listrik roda dua bekerja sama dengan ECGO serta 65 unit kendaraan roda tiga bersama SAFAGO. Selain itu, Perseroan juga telah mengoperasikan 11 kabinet penukaran baterai ECGO yang tersebar di Jakarta, Bogor, dan Tangerang. Sementara itu, bisnis baja dan produk turunannya tetap dijalankan melalui PT Green Power Precision Indonesia sebagai salah satu sumber pendapatan Perseroan.
Transformasi bisnis tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang setelah Perseroan berganti nama dari PT Ladangbaja Murni Tbk menjadi PT Green Power Group Tbk. Sejak 2024, perusahaan mulai mengembangkan lini bisnis manufaktur dan perdagangan peralatan baterai tanpa meninggalkan bisnis inti di bidang molding dan perdagangan baja.
Ke depan, LABA akan memfokuskan pengembangan usaha pada sektor energi terbarukan melalui peningkatan kapasitas manufaktur baterai, penguatan kemampuan operasional, serta perluasan kerja sama dengan berbagai mitra dalam ekosistem kendaraan ramah lingkungan. Perseroan juga menegaskan komitmennya memperkuat tata kelola perusahaan dan manajemen risiko guna mendukung ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Perseroan mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan regulasi di sektor energi dan pasar modal, meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk ekspansi, hingga memastikan proyek berjalan tepat waktu dengan tetap menjaga efisiensi operasional.
Dengan strategi tersebut, LABA berharap transformasi menuju perusahaan manufaktur energi terbarukan dapat memperkuat daya saing sekaligus membuka peluang pertumbuhan jangka panjang di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap solusi energi bersih di Indonesia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar