Jakarta – PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja keuangan yang tergerus drastis. Berdasarkan Laporan Tahunan yang dirilis akhir Mei 2026, emiten infrastruktur energi ini mencatatkan pendapatan USD235,09 juta — merosot 58,24% dibandingkan tahun sebelumnya.
Lebih buruk lagi, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ambrol 85,6% menjadi hanya USD1,09 juta dari sebelumnya USD6,54 juta.
"Penurunan ini mencerminkan kombinasi dari kondisi pasar yang lebih lemah, berkurangnya kontribusi pendapatan dari segmen-segmen bisnis utama, serta beban pembiayaan yang masih berlanjut di tahun 2025," demikian kutipan resmi dari Laporan Direksi dalam dokumen tersebut.
Direktur Utama Ray Anthony Gerungan menyebut tahun 2025 bukan sebagai kemunduran, melainkan "tahun penyesuaian di mana Perseroan memprioritaskan stabilitas keuangan dan ketahanan neraca."
---
⚠️ Peringatan Going Concern: "Ada Ketidakpastian Material"
Yang paling mencengangkan adalah pengakuan eksplisit manajemen mengenai risiko kelangsungan usaha. Dalam Catatan 41 atas laporan keuangan yang telah diaudit, tertulis hitam di atas putih:
"Grup mencatat arus kas operasi negatif sebesar USD25,9 juta... serta melaporkan saldo defisit. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya suatu ketidakpastian material yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan Grup untuk mempertahankan kelangsungan usahanya."
Peringatan ini bukan isapan jempol belaka. Sebab, dua entitas anak strategis Astrindo di bidang pertambangan — PT Jembayan Muarabara (JMB) dan PT Arzara Baraindo Energitama (ABE) — hingga laporan ini terbit belum mendapatkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026. Tanpa RKAB, operasi tambang bisa tersendat.
Manajemen mengaku telah menyiapkan langkah mitigasi, termasuk efisiensi biaya dan pengelolaan ulang portofolio pinjaman. Namun auditor tetap menyoroti adanya tekanan likuiditas yang signifikan.
---
🚨 Badai Hukum: Terseret Kasus Korupsi Lahan
Di tengah tekanan finansial, Astrindo juga harus menghadapi belitan hukum. Berdasarkan Catatan 43 laporan yang sama, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur (Kejati Kaltim) sejak Januari 2026 telah menetapkan 7 (tujuh) orang tersangka terkait dugaan tindak pidana korupsi.
Kasus ini berkaitan dengan pemanfaatan barang milik negara berupa Hak Pengelolaan Lahan (HPL) No. 01 milik Kementerian Transmigrasi untuk kegiatan pertambangan di Kabupaten Kutai Kartanegara pada periode 2005 hingga 2011.
Para tersangka terdiri dari mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kutai Kartanegara serta direktur dari PT Jembayan Muarabara (JMB), PT Arzara Baraindo Energitama (ABE), dan PT Kemilau Rindang Abadi (KRA) pada periode tersebut.
Manajemen menegaskan bahwa perkara ini berkaitan dengan peristiwa yang terjadi sebelum ketiga entitas anak tersebut berada di bawah pengendalian Grup. "Sehingga tidak mencerminkan aktivitas usaha maupun pengelolaan yang dilakukan oleh Grup setelah tanggal akuisisi," demikian bunyi penjelasan resmi.
Hingga laporan keuangan diterbitkan (20 Mei 2026), belum ada putusan atau tuntutan yang menimbulkan kewajiban kini bagi Grup. Namun reputasi dan risiko investigasi tetap membayangi.
---
🟢 Sisi Lain: Program Hijau Terus Digaungkan
Meskipun tekanan datang dari berbagai arah, Astrindo tetap mempertahankan agenda keberlanjutan. Dalam Laporan Keberlanjutan 2025 yang dirilis terpisah, Perseroan mengklaim masih berkomitmen pada aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).
Beberapa program unggulan yang terus dijalankan antara lain pengelolaan Arboretum seluas ±100 hektar di lahan pasca tambang Jembayan, program pemberdayaan masyarakat di 5 desa binaan, serta pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan mini LNG.
Namun capaian hijau ini terasa kontras dengan kondisi keuangan yang sedang tertekan dan arus kas operasi yang negatif.
---
📊 Prospek 2026: Hati-hati Tapi Optimistis
Menatap tahun 2026, manajemen memproyeksikan pendapatan naik menjadi USD349,71 juta dengan target laba tahun berjalan sekitar USD11,73 juta. Asumsinya, harga batu bara akan stabil dan permintaan domestik tetap solid seiring dengan target DMO (Domestic Market Obligation) sebesar 247,9 juta ton.
"Perusahaan yang mampu menunjukkan eksekusi yang kuat, disiplin keuangan, dan kejelasan strategi akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk memanfaatkan peluang," tulis Direksi dalam optimismenya.
Namun pasar akan mencermati dengan saksama apakah Astrindo mampu keluar dari jeratan arus kas negatif, risiko kepatuhan RKAB, serta dampak reputasi dari kasus hukum yang masih bergulir.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar